Warga LDII Temon Raih Gelar Juara di Ajang Pencak Silat Bupati Cup 3 Kulon Progo

Berfoto dengan Wakil Bupati Kulon Progo pada Bupati Cup 3
Berfoto dengan Wakil Bupati Kulon Progo pada Bupati Cup 3

Kulon Progo (10/1) – Kejuaraan Pencak Silat Bupati Cup 3 IPSI Pelajar Kabupaten Kulon Progo yang digelar di GOR Cangkring pada Jumat–Sabtu (9–10/1/2026) menjadi ajang pembinaan sekaligus pencarian bibit atlet silat pelajar di Kulon Progo. Sebanyak 253 atlet pelajar dari berbagai sekolah dan perguruan silat ambil bagian dalam kejuaraan tersebut.

Ketua Panitia Kejuaraan, Arif Hidayat, menjelaskan bahwa ratusan atlet tersebut terbagi dalam tiga kategori usia, yakni usia dini/SD sebanyak 78 atlet, pra-remaja/SMP 85 atlet, dan remaja/SMA–SMK 90 atlet. Menurutnya, kejuaraan ini dirancang tidak hanya sebagai ajang kompetisi, tetapi juga sarana evaluasi hasil pembinaan atlet di sekolah maupun perguruan silat.

“Melalui kejuaraan ini, kami ingin memberikan ruang bagi atlet pelajar untuk bertanding sekaligus mengukur hasil pembinaan yang selama ini dilakukan,” ujarnya.

Bupati Kulon Progo Agung Setyawan saat membuka kejuaraan menegaskan pentingnya olahraga, khususnya pencak silat, sebagai media pembentukan karakter generasi muda. Ia menekankan nilai disiplin, keberanian, dan sportivitas yang harus dijunjung tinggi oleh para atlet.

“Menang dan kalah adalah hal yang biasa. Yang utama adalah proses, keberanian, serta sikap sportif. Dari ajang seperti ini diharapkan lahir atlet-atlet pencak silat yang mampu mengharumkan nama Kulon Progo,” kata Agung.

Kejuaraan ini juga diproyeksikan sebagai bagian dari persiapan atlet pelajar menuju Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) 2026, baik di tingkat kabupaten maupun Daerah Istimewa Yogyakarta.

Prestasi membanggakan dalam ajang tersebut diraih oleh Nuh Alamsyah, pelajar kelas 6 SDN Kalisari, Kalidengen, Temon. Atlet muda yang aktif mengaji di Masjid Baitul A’lam naungan PC LDII Temon berhasil meraih gelar Pesilat Terbaik Kelas E Usia SD.

Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan sejak usia dini, yang memadukan latihan olahraga, pendidikan karakter, serta pembinaan keagamaan, mampu melahirkan generasi muda yang berprestasi dan berakhlak.

Pencak silat sendiri merupakan seni bela diri tradisional Nusantara yang tidak hanya menekankan aspek teknik dan ketangkasan fisik, tetapi juga nilai budaya dan spiritual. Sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia yang diakui UNESCO, pencak silat terus dikembangkan melalui berbagai kejuaraan, termasuk Bupati Cup, sebagai sarana pelestarian sekaligus pembinaan atlet berkelanjutan.

Pelatih pendamping, Muksen Nur Hidayat, menyampaikan rasa syukur atas capaian tersebut. Menurutnya, prestasi yang diraih Nuh Alamsyah merupakan hasil dari proses pembinaan yang berkesinambungan, disiplin latihan, serta dukungan lingkungan yang positif.

Ia menambahkan, pembinaan atlet usia dini perlu dilakukan secara seimbang antara latihan fisik, mental, dan pembentukan karakter luhur. “Kami berupaya membangun karakter sportif, rendah hati, dan karakter luhur lainnya sejak awal. Prestasi ini kami jadikan motivasi agar para atlet tetap semangat berlatih dan tidak cepat berpuas diri,” pungkasnya.

About andhika widiasto

Check Also

Ustadz Ahmad Harun saat Memberikan Materi pada Pengajian ASN DPD LDII Kulon Progo

Pengajian ASN, Haji, dan Umrah LDII Kulon Progo: Maksimalkan Peran dalam Dakwah dan Pendidikan

Kulon Progo (11/1) – Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPD LDII) Kulon Progo …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.